Misteri Kematian 60.000 Antelop Saiga Hamil

shares

Tubuh antelop saiga hamil yang mati. Foto
Ketika geoecologist Steffen Zuther dan rekan-rekannya tiba di pusat Kazakhstan, untuk memantau kawanan antelop saiga yang sedang beranak, sebuah fenomena mengejutkan mereka. Di padang rumput tersebut, mereka melihat banyak antelop yang mati di tanah.

Hanya dalam waktu empat hari saja, seluruh kawanan yang berjumlah sekitar 60.000 telah mati. Sebagai dokter hewan dan konservasionis, mereka tentu berusaha mencegah kawanan ini dari kepunahan.

Kawanan antelop saiga ini mati begitu cepat, di mana pada tahun 2014 ada sekitar 257.000 antelop yang hidup di Kazakshtan dan kini menyusut drastis. Para peneliti masih kebingungan, apa yang menyebabkan kawanan ini mati di area yang sangat luas.

Namun diduga, mikroba yang biasanya tidak berbahaya bisa menjadi petunjuk akan kematian yang masih menjadi misteri tersebut.

Antelop saiga memainkan peran penting dalam ekosistem padang rumput kering, di mana musim dingin mencegah tanaman membusuk, dan pada musim panas bahan organik dan nutrisi yang didaur ulang dalam ekosistem mencegah kebakaran hutan. Hewan-hewan ini juga menyediakan makanan lezat untuk predator yang hidup di padang rumput.

"Di mana Anda menemukan Saiga, kami menyadari juga bahwa spesies lain jauh lebih berlimpah," kata Zuther yang kami kutip dari Live Science.

Saigas yang terdaftar sebagai hewan terancam punah oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam, saat ini hanya ada di beberapa negara salah satunya Kazakhstan, semantara kawanan kecil lainnya berada di Rusia dan Mongolia.

Mereka biasanya berkumpul dengan kawanan lain selama musim dingin, dan bermigrasi ke bagian lain dari Kazakhstan, selama musim gugur dan musim semi. Setiap mereka yang sedang hamil akan terpisah dari kawanan untuk melahirkan anak. Dan saat itulah periode calving dimulai.

Sementara itu peneliti menduga jika kematian saiga ini, disebabkan oleh berlimpahnya tanaman hijau di padang rumput yang menyebabkan masalah pencernaan dan meningkatkan pertumbuhan bakteri yang berlebihan dalam usus.

Sampel jaringan yang diambil dari hewan mati mengungkapkan bahwa, racun yang diproduksi oleh bakteri Pasteurella dan mungkin Clostridia, menyebabkan perdarahan luas di sebagian besar organ hewan ini.

Kematian masal serupa juga pernah terjadi, di mana sekitar 400.000 saiga mati di tahun 1988, dan dokter hewan di sana melaporkan gejala yang sama.

Sejauh ini, satu-satunya penyebab lingkungan yang mungkin mengakibatkan hal ini adalah adanya cuaca dingin. Musim dingin ekstrem diikuti oleh musim semi basah, dengan banyak vegetasi subur dan tumbuh di tanah yang dapat memungkinkan bakteri menyebar lebih mudah. Sementara penelitian masih terus dilakukan, untuk menyelidi lebih dalam lagi.
Loading...

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar