Miris, Kehidupan Anak 4 Tahun yang Menjadi Buruh Tambang

shares

Penambang cilik.
Bekerja menjadi salah satu kewajiban orang dewasa, terutama pria. Tapi kita tidak bisa menutup mata, jika masih ada sebagian orang bahkan anak-anak yang rela bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan membantu orangtua.

Anak-anak kecil ini bahkan rela berjibaku dengan panas maupun dinginnya cuaca, saat mencari beberapa lembar uang. Bahkan tidak jarang mereka harus melakukan pekerjaan yang sangat berat, untuk anak seusianya.

Salah satunya adalah menjadi seorang penambang, yang mungkin bagi sebagian besar orang bukan pekerjaan impian. Bagaimana potret kehidupan anak-anak yang berkeja di tambang ini? Dan bagaimana mereka bisa bekerja di sana?

Mengangkat sebongkah batu besar dengan tangan kosongnya yang kecil, anak laki-laki kecil ini tampak kelelahan yang membuat pemandangan ini kian menyedihkan.

Namanya Dorsen dan dia adalah salah satu dari puluhan anak-anak yang bekerja di tambang, di mana beberapa di antaranya masih berumur empat tahun. Ia bekerja di tambang yang berpolusi di Republik Demokratik Kongo, di mana debu merah yang beracun membakar mata mereka.

Mereka juga berisiko terkena penyakit kulit dan kondisi paru-paru yang mematikan, dan semua dilakukan untuk upah hanya 8p atau beberapa ribu saja sehari. Anak-anak dipaksa untuk memeriksa bebatuan bercak coklat yang merupakan kobalt--bahan berharga yang penting untuk baterai, terutama untuk mobil listrik.

Dikhawatirkan ribuan anak akan terseret ke dalam kehidupan sehari-hari yang mengerikan ini, setelah Inggris melarang penjualan mobil bensin dan diesel pada tahun 2040 mendatang dan beralih ke kendaraan listrik.

Dorsen, yang berumur 8 tahun, adalah satu dari 40.000 anak-anak yang bekerja setiap hari di tambang Republik Demokratik Kongo (DRC). Upah kecil yang mereka dapatkan, dilakukan hanya untuk udara bersih orang kaya yang hidup di kota-kota besar negara maju.

Hampir setiap produsen motor besar berusaha menghasilkan jutaan kendaraan listrik, di mana mereka mendapatkan kobal dari negara Afrika tengah yang miskin dengan upah buruh yang minim.

Produsen baterai menggunakannya untuk membuat produk mereka lebih ringan, tahan lama dan dapat diisi ulang. Namun baterai smartphone menggunakan tidak lebih dari 10 gram kobalt halus, sedangkan mobil listrik membutuhkan 15 kilogram.

Kobalt sendiri bukan tanpa bahaya, terutama bagi penambangnya, di mana suatu bentuk pneumonia yang menyebabkan batuk dan menyebabkan ketidakmampuan permanen dan bahkan kematian terjadi karena berang tambang ini.

Tidak ada yang tahu berapa banyak anak-anak yang telah meninggal karena bekerja di tambang. Namun jumlahnya kian meningkat, seiring banyaknya anak-anak yang bekerja demi tingginya permintaan kobalt.


Loading...
loading...

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar